Tindakan untuk Mengatasi Inflasi

Artikel ini merukapan lanjutan dari artikel sebelumnya dengan judul Pertanian dan Inflasi (II)

Tingkat inflasi yang terlalu tinggi dapat membahayakan perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, inflasi harus segera diatasi. Tindakan yang dapat diambil untuk mengatasi inflasi dapat berupa kebijakan moneter, kebijakan fiskal, atau kebijakan lain selain kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.

Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter dibagi menjadi 3, yaitu

  • Kebijakan penetapan persediaan kas

Bank sentral dapat mengambil kebijakan untuk mengurangi uang yang beredar dengan jalan menetapkan persediaan uang yang beredar dan persediaan uang kas pada bank-bank. Dengan mengurangi jumlah uang beredar, inflasi dapat ditekan.

  • Kebijakan diskonto

Untuk mengatasi inflasi, bank sentral dapat menerapkan kebijakan diskonto dengan carameningkatkan nilai suku bunga. Hal ini bertujuan agar masyarakat terdorong untuk menabung. Dengan demikian, diharapkan jumlah uang yang beredar dapat berkurang sehingga tingkat inflasi dapat ditekan.

  • Kebijakan operasi pasar terbuka

Bank sentral dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual surat-surat berharga, misalnya Surat Utang Negara (SUN). Semakin banyak jumlah surat-surat berharga yang terjual, jumlah uang beredar akan berkurang sehingga dapat mengurangi tingkat inflasi.

Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal adalah langkah untuk mempengaruhi penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang dapat memengaruhi tingkat inflasi. Kebijakan itu antara lain sebagai berikut :

  • Menghemat pengeluaran pemerintah

Pemerintah dapat menekan inflasi dengan cara mengurangi pengeluaran, sehingga permintaan akan barang dan jasa berkurang yang pada akhirnya dapat menurunkan harga.

  • Menaikkan tarif pajak

Untuk menekan inflasi, pemerintah dapat menaikkan tarif pajak. Naiknya tarif pajak untuk rumah tangga dan perusahaan akan mengurangi tingkat konsumsi. Pengurangan tingkat konsumsi dapat mengurangi permintaan barang dan jasa, sehingga harga dapat turun.

Kebijakan Lain di Luar Kebijakan Moneter dan Kebijakan Fiskal untuk memperbaiki dampak yang diakibatkan inflasi, pemerintah menerapkan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Tetapi selain kebijakan moneter dan fiskal, pemerintah masih mempunyai cara lain. Cara-cara dalam mengendalikan inflasi adalah sebagai berikut :

  • Meningkatkan produksi dan menambah jumlah barang di pasar

Untuk menambah produksi, pemerintah dapat mengeluarkan produksi. Hal itu dapat ditempuh, misalnya, dengan memberi premi atau subsidi pada perusahaan yang dapat memenuhi target tertentu. Selain itu, untuk menambah jumlah barang yang beredar, pemerintah juga dapat melonggarkan keran impor. Misalnya, dengan menurunkan bea masuk barang impor.

  • Menetapkan harga maksimum untuk beberapa jenis barang

Penetapan harga tersebut akan mengendalikan harga yang ada sehingga inflasi dapat dikendalikan. Tetapi penetapan itu harus realistis. Kalau penetapan itu tidak realistis, dapat berakibat terjadi pasar gelap (black market).

Pada umumnya, di negara berkembang termasuk Indonesia, komoditi pangan khususnya beras merupakan komoditi strategis sekaligus politis sehubungan dengan proporsi yang cukup besar dalam komposisi pengeluaran rumah tangga untuk pangan.Pemerintah Hindia-Belanda menetapkan harga beras yang relatif murah dengan tujuan untuk menekan laju inflasi yang timbul karena ongkos produksi (cost inflation). Apabila harga beras tinggi maka pekerja-pekerja di luar sektor pertanian meminta upah untuk standar hidup yang lebih tinggi. Dengan demikian, upah pekerjaan di luar sektor pertanian menjadi lebih tinggi daripada upah di sektor pertanian.

Kenaikan upah di luar sektor pertanian ini menyebabkan pendapatan rumah tangga di luar sektor peranian meningkat, sehingga permintaan beras pun meningkat. Meningkatnya permintaan akan beras ini ternyata belum diimbangi dengan kenikan produksi beras. Akibat selanjutnya adalah naiknya harga beras. Kenaikan harga beras ini menyebabkan pekerja-pekerja di luar sektor pertanian menuntut upah yang lebih tinggi. Adanya kenaikan upah ini menyebabkan biaya produksi tinggi. Agar produsen tidak merugi, harga output yang dihasilkan pun harus tinggi pula. Dari sisi inilah, terjadi kenaikan harga secara umum yang terus menerus, yang disebut dengan cost inflation (inflasi karena kenaikan ongkos produksi) (Hanafi, 2010).

Harga komoditas pertanian dan pangan yang cenderung terus meningkat dimasa mendatang akan menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi perekonomian domestik. Dampak negatif tersebut terutama terhadap inflasi. Inflasi yang tinggi akan menyebabkan keresahan masyarakat dan instabilitas politik. Selain itu, inflasi yang tinggi akan kontra produktif terhadap pertumbuhan ekonomi. Inflasi adalah meningkatnya harga-harga umum dan terus menerus yang berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya keridaklancaran distribusi barang.

Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi penawaran (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Faktor-faktor yang terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara mitra dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shocks  akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.

Faktor penyebab terjadi demand pull inflation  adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas ekonomi.

Berikut merupakan hubungan inflasi dengan bidang pertanian. Inflasi menyebabkan harga- harga komoditas naik sacara terus menerus. Pada bidang pertanian, inflasi memberi sedikit keuntungan untuk para petani penghasil komoditas pertanian. Namun, bagi para konsumen yang selalu membutuhkan hasil pertanian, harga komoditas yang tinggi dalam waktu yang lama akan merugikannya. Pendapatan pada sebuah rumah tangga pasti keberatan jika menghadapi inflasi terus menerus. Selain itu jika ditinjau dari segi hubungan dengan negara lain, adanya inflasi menurunkan kesempatan suatu negara untuk melakukan ekspor komoditas pertanian. Komoditas yang akan diekspor harganya tinggi, sehingga dijual ke luar negeri pun harganya tinggi. Maka, komoditas dalam negeri tidak mampu bersaing dengan komoditas negara lain yang harganya mungkin lebih rendah.

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh informasi bahwa beras merupakan komoditas yang paling banyak menyumbang inflasi di Indonesia tahun 2010. Hal tersebut disebabkan beras merupakan komoditas yang harus dan selalu dibeli masyarakat Indonesia. Seperti yang telah kita tahu bahwa penduduk Indonesia selalu bertambah. Oleh karena itu permintaan beras selalu meningkat dan membuat harga beras semakin melonjak tinggi.Dampak terbesar akibat kenaikan harga beras ini adalah meningkatnya inflasi sehingga memberatkan masyarakat di Indonesia terutama masyarakat miskin. Namun, harga komoditas pertanian yang rendah juga kurang baik karena akan sangat merugikan petani. Karena itu perlu dicari keseimbangan harga komoditas pertanian sehingga tidak terlalu tinggi yang memberatkan konsumen dan tidak terlalu rendah yang merugikan petani.

Ketika kenaikan barang berlangsung dalam waktu yang lama dan terjadi hampir pada seluruh barang dan jasa maka gejala ini disebut dengan inflasi. Kenaikan harga pada komoditas pertanian akan menyumbangkan inflasi di Indonesia. Inflasi dapat ditangani dengan berbagai cara.

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, A. S. 1999. Inflasi di Indonesia : sumber-sumber penyebab dan pengendaliannya. Jurnal Akuntansi dan Keuangan 1 (I) : 54-67.

Anonim. 2015. Pengertian  Inflasi Jenis Dampak Penyebab http://www.artikelsiana.com.  Diakses pada tanggal 26 Mei 2015.

Anonim. 2014. Pengertian Inflasi http://www.zonasiswa.com. Diakses pada tanggal 26 Mei 2015.

Hanafi, R. 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. CV Andi Offset. Yogyakarta. 240

Putong, I. 2013. Economics Pengantar Mikro dan Makro. Mitra Wacana Media. Jakarta.

Soesastro, H., A. Budiman, N. Triaswati, A. Alisjahbana, dan S. Adining.  2005.  Pemikiran dan Permasalah Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir. Kanisius, Yogyakarta.  Hal 177.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *