Pertanian dan Inflasi

Inflasi di sektor ekonomi modern sangat memberatkan masyarakat. Hal ini disebabkan karena  inflasi dapat mengakibatkan lemahnya efisiensi dan produktifitas ekonomi, kenaikan biaya modal, dan pendapatan yang tidak jelas di masa yang akan datang. Permasalahan inflasi dan tidak stabilnya sektor ini dari waktu ke waktu menjadi perhatian sebuah pemerintahan yang berkuasa serta otoritas moneter . Lebih dari itu, kecenderungan inflasi dipandang sebagai permasalahan yang senantiasa akan terjadi .

Terjadinya inflasi dapat menyebabkan harga-harga relatif, tingkat pajak, suku bunga, pendapatan masyarakat akan terganggu, mendorong investasi yang keliru, dan menurunkan moral. Oleh sebab itu, mengatasi inflasi merupakan sasaran utama kebijakan moneter. Pengaruh inflasi cukup besar pada kehidupan ekonomi karena inflasi merupakan salah satu masalah ekonomi yang banyak mendapat perhatian para ekonom, pemerintah, maupun masyarakat umum. Berbagai teori, pendekatan dan kebijakan dikembangkan supaya inflasi dapat dikendalikan sesuai dengan yang diinginkan.

Kenaikan harga barang dapat bersifat sementara atau berlangsung terus-menerus. Ketika kenaikan tersebut berlangsung dalam waktu yang lama dan terjadi hampir pada seluruh barang dan jasa maka gejala ini disebut inflasi. Jadi, kenaikan harga pada satu atau dua jenis barang tidak dapat dikategorikan sebagai inflasi.Inflasi merupakan salah satu penyakit ekonomi di setiap negara. Semua negara baik negara maju maupun berkembang pasti mengalami apa yang disebut inflasi, hanya besarannya saja yang berbeda (Anonim, 2014).

Di negara-negara berkembang, inflasi dapat terjadi bila terdapat kekurangan persediaan bahan makanan dalam masyarakat. Kekurangan ini bisa terjadi bila investasi dan employment bertambah tetapi tidak diikuti dengan pertambahan hasil bahan makanan, karena elastisitas sektor pertanian kecil. Jika kegiatan investasi bertambah maka kenaikan harga daripada barang-barang konsumsi akan terjadi  sebagai akibat adanya excess demand (Soesastro et al., 2005). Selain harga komoditi pangan, penyebab utama terjadinya inflasi di negara-negara berkembang adalah akibat inflasi dari luar negeri (imported inflation). Hal ini disebabkan antara lain oleh harga barang-barang impor yang meningkat di daerah asalnya, atau terjadinya devaluasi atau depresiasi mata uang di negara pengimpor (Atmadja, 1999).

Jenis Inflasi

Menurut Putong (2013), jenis inflasi dibagi menjadi 3, yaitu:

A. Berdasarkan Sifatnya

  1. Inflasi merayap/rendah (creeping inflation) yaitu inflasi yang besarnya kurang dari 10% pertahun.
  2. Inflasi menengah (galloping inflation) besarnya antara 10-30% pertahun. Inflasi ini biasanya ditandai oleh naiknya harga-harga secara cepat dan relative besar. Angka inflasi pada kondisi ini biasanya disebut inflasi 2 digit, misalnya 15%, 20%, 30% dan sebagainya.
  3. Inflasi berat (high inflation) yaitu inflasi yang besarnya antara 30-100% pertahun. Dalam kondisi ini harga-harga secara umum naik.
  4. Inflasi sangat tinggi (hyper inflation) yaitu inflasi yang ditandai oleh naiknya harga secara drastis sehingga mencapai 4 digit (diatas 100%). Pada kondisi ini masyarakat tidak ingin lagi menyimpan uang, karena nilainya merosot tajam, sehingga lebih baik ditukarkan dengan barang.

B. Berdasarkan Sebabnya

  1. Demand pull inflation merupakan inflasi yang timbul karena adanya permintaan keseluruhan yang tinggi disatu pihak, tetapi di pihak lain kondisi produksi telah mencapai kesempatan kerja penuh (full employment) sehingga akibat yang terjadi sesuai hukum permintaan yaitu bila permintaan banyak sedangkan penawaran tetap maka harga akan naik. Inflasi berkepanjangan akan terjadi apabila keadaan tersebut berlangsung terus menerus, oleh karena itu diperlukan adanya pembukaan kapasitas produksi baru dengan penambahan tenaga kerja baru.
  2. Cost push inflation merupakan inflasi yang terjadi karena turunnya produksi karena naiknya biaya produksi (naiknya biaya produksi dapat terjadi karena tidak efisiennya perusahaan, nilai kurs mata uang negara yang bersangkutan jatuh/menurun, kenaikan harga barang baku industri, adanya tuntutan kenaikan upah dari sertikat buruh yang kuat dan sebagainya). Akibatnya naiknya biaya produksi maka dua hal yang bisa dilakukan oleh produsen yaitu: pertama, langsung menaikkan barharga produknya dengan jumlah penawaran syang smaa, atau harga produknya naik (karena tarik menarik permintaan dan penawaran) karena penurunan jumlah produksi.

C. Berdasarkan asalnya

  • Inflasi dalam negeri (domestic inflation)

Inflasi ini timbul karena terjadinya defisit dalam pembiayaan dan belanja negara yang terlihat pada anggaran belanja negara. Untuk mengatasinya biasanya pemerintah mencetak uang baru, selain itu harga-harga baik dikarenakan musim paceklik (gagal panen), bencana alam yang berkepanjangan dan lain sebagainya.

  • Inflasi luar negeri

Inflasi ini berasal dari luar dan inflasi ini terjadi karena Negara-negara yang menjadi mitra dagang suatu Negara mengalami inflasi tinggi, sehingga harga-harga barang dan juga ongkos produksi relatif mahal. Selanjutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *