Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu, perusahaan-perusahaan dan masyarakat secara keseluruhannya akan selalu menghadapi persoalan-persoalan yang bersifat ekonomi, yaitu persoalan yang menghendaki seseorang atau perusahaan ataupun suatu masyarakat membuat keputusan tentang cara yang terbaik untuk melakukan suatu kegiatan ekonomi.
Kegiatan ekonomi dapat didefinisikan sabagai kegiatan seorang atau suatu perusahaan ataupun suatu masyarakat untuk memproduksi barang dan jasa maupun mengonsumsi (menggunakan) barang dan jasa tersebut. Dalam melakukan berbagai kegiatan ekonomi seorang individu, suatu perusahaan, atau masyarakat secara keseluruhannya, akan mempunyai beberapa pilihan atau alternatif untuk melakukannya. Berdasarkan kepada alternatif-alternatif yang tersedia tersebut mereka perlu mengambil keputusan untuk memilih alternatif yang terbaik.
Masyarakat harus membuat pilihan karena masalah kelangkaan. Kelangkaan atau kekurangan berlaku sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara kebutuhan masyarakat dengan faktor-faktor produksi yang tersedia dalam masyarakat. Di satu pihak, dalam setiap masyarakat selalu mendapat keinginan yang relatif tidak terbatas untuk menikmati berbagai jenis barang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan mereka. Sebaliknya di lain pihak, sumber-sumber daya atau faktor-faktor produksi yang dapat digunakan untuk menghasilkan barang-barang tersebut adalah relatif terbatas. Oleh karenanya masyarakat tidak dapat memperoleh dan menikmati semua barang yang mereka butuhkan atau inginkan. Mereka perlu membuat pilihan.
Salah satu sektor ekonomi yang memiliki banyak pilihan adalah pertanian. Pertanian menghasilkan produk yang memiliki keragaman jenis. Keragaman jenis tersebut memberikan pilihan bagi konsumen. Dalam menghasilkan produk yang beragam jenis tersebut, pelaku usaha tani memiliki pilihan untuk menentukan produk yang akan dihasilkan.
Permasalahan yang ada para pelaku usaha tani khususnya patani dan dalam penelitian ini adalah petani kedelai, dalam memilih bahan baku produksi (benih) tidak memiliki pilihan yang banyak karena modal yang dimilikinya kurang mencukupi. Dengan menentukan pilihan secara cepat para petani memilih barang yang didapat dalam jumlah maksimal tetapi dengan modal yang minimal. Pola pikir patani tersebut kurang tepat karena tidak melakukan perhitungan manajemen produksi yang tepat.
Oleh karena itu, dalam mengatasi masalah tersebut, penulis menilai perlu adanya penelitian tentang peningkatan pendapatan produksi kedelai malalui pendekatan ekonomi patani.
Biaya produksi dapat didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut. Biaya produksi dikeluarkan setiap perusahaan menjadi dua jenis: biaya eksplisit dan biaya tersembunyi (imputed cost). Biaya eksplisit adalah pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang berupa pembayaran dengan uang untuk mendapatkan faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang dibutuhkan. Sedangkan biaya tersembunyi adalah taksiran pengeluaran terhadap faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri.
Di dalam masyarakat, faktor-faktor produksi yang tersedia relatif terbatas jumlahnya. Kemampuan untuk memproduksi barang dan jasa jauh lebih rendah daripada jumlah keinginan masyarakat tersebut. Di negara-negara miskin seperti India, keadaan ketidakseimbangan ini lebih nyata terlihat. Hasil pertanian yag mereka produksi lebih rendah daripada yang dibutuhkan penduduknya. Peranan sektor industri relatif kecil dan kemampuan sektor itu memproduksi juga lebih rendah daripada jumlah hasil-hasil industri yang dibutuhkan penduduk India.
Didapati keadaan serupa pada daerah penelitian. Petani kedelai setempat memiliki keterbatasan dalam menetukan faktor produksinya yang berupa benih. Petani tidak bisa membeli benih yang berkualitas baik karena tidak memliki modal yang cukup, sehingga mereka memilih untuk membeli benih dangan kualitas di bawahnya dengan asumsi benih yang banyak menghasilkan produksi yang banyak pula.
|
Jenis benih |
Ciri-ciri |
Harga |
|
Kualitas A1 |
Besar, utuh, bening, kering |
Rp.30.000,- |
|
Kualitas A2 |
Sedikit benih yang cacat |
Rp.20.000,- |
|
Kualitas A3 |
Lebih banyak cacat, lebih kecil |
Rp.15.000,- |
|
Kualitas A4 |
Tanpa penyeleksian |
Rp.12.000,- |
Tabel1. Kualitas benih kedelai, ciri-ciri dan harganya
Padahal jika diamati lebih lanjut, benih dengan kualitas yang baik akan menghasilkan produk yang lebih banyak. Akan tetapi para petani menganggap produksi akan lebih banyak jika menanam benih yang lebih banyak jumlahnya. Anggapan mereka seperti perumpamaan 2×2 (benih A3) lebih banyak dari 1×3 (benih A1). Kenyataannya dengan perhitungan yang cermat, pemilihan benih kualitas A1 menghasilkan produksi yang lebih banyak daripada kualitas di bawahnya dengan modal yang sama.
|
Jenis benih |
Produksi per kilo |
Harga jual |
|
|
Konsumsi |
Benih |
||
|
Kualitas A1 |
1 Kuintal |
Rp.7.000,- |
Rp.9.000,- |
|
Kualitas A2 |
80 Kg |
Rp.7.000,- |
Rp.8.000,- |
|
Kualitas A3 |
70 Kg |
Rp.7.000,- |
– |
|
Kualitas A4 |
50 Kg |
Rp.7.000,- |
– |
Tabel 2. Produksi kedelai per kilo berdasarkan jenis benih yang digunakan
Selain benih dengan kualitas A1 menghasilkan produksi yang lebih banyak, kualitas yang diproduksi juga lebih baik. Apabila kualitas produk baik, maka harga jual akan naik. Produk yang baik akan digunakan untuk benih dengan presentasi yang tinggi dibandingkan kualitas dibawahnya. Sedangkan sisanya digunakan untuk konsumsi seperti tahu.
|
Jenis benih |
Pemanfaaatan |
|
Kualitas A1 |
90% |
|
Kualitas A2 |
80% |
|
Kualitas A3 |
60% |
|
Kualitas A4 |
50% |
Tabel 3. Presentasi pemanfaatan produk yang dapat dijadikan benih kembali
Dari semua perhitungan dengan berbagai macam pendekatan, semuanya menunjukkan bahwa pemilihan benih dengan kualitas baik akan lebih menguntungkan. Dapat disimpulakan bahwa dengan modal yang sama semakin baik kualitas benih, maka produksi akan samakin meningkat. Apabila jumlah benih yang ditanam dirasa kurang maksimal karena area tanam banyak yang tidak digunakan, tidak ada salahnya untuk memenuhi lahan yang ditanami walaupun membutuhkan modal yang lebih banyak. Hal seperti ini yang membuat para petani tidak memilih benih kedelai dengan kualitas baik. Padahal jika mereka mau berusaha lebih banyak di awal, maka hasil yang diproduksi akan menutupi modal awal.
Diperkirakan penggunaan benih jenis A1 satiap kilonya akan menghasilkan 1 kuintal produk. Dari 1 kuintal produk tersebut apabila dikalikan dengan harga jual pada umumnya yaitu Rp.7.000,- menghasilkan laba penjualan sebanyak Rp.700.000,-. Dari laba tersebut dikurangi dengan biaya produksi sebanyak Rp.30.000,-. Sehingga laba total produksi kedelai benih kualitas A1 adalah Rp.670.000,-. Dalam hal ini yang dimaksud biaya produksi adalah harga benih per kilonya saja, karena variasi yang diberikan hanya pada jenis benih tersebut.
Sedangkan benih A2 menghasilkan 0,8 kuintal produk. Dikalikan harga jual Rp.7.000,- menghasilkan laba Rp.560.000,-. Dikurangi biaya produksi A2 Rp.20.000,- sehingga laba total produksi kedelai benih A2 adalah Rp.540.000,-. Pada benih A3 menghasilkan 0,7 kuintal produk. Dikalikan harga jual Rp.7.000,- menghasilkan laba Rp.490.000,-. Dikurangi biaya produksi A2 Rp.15.000,- sehingga laba total produksi kedelai benih A3 adalah Rp.475.000,-. Pada benih A4 menghasilkan 0,5 kuintal produk. Dikalikan harga jual Rp.7.000,- menghasilkan laba Rp.350.000,-. Dikurangi biaya produksi A2 Rp.12.000,- sehingga laba total produksi kedelai benih A4 adalah Rp.338.000,-. Padahal setiap petani biasanya menanam 10 kilogram, maka keuntungan dikali 10, pada A1 6,7 juta, A2 5,4 juta, A3 4,75 juta, A4 3,38 juta.
|
Jenis benih |
Hasil panen |
Penjualan |
Laba total |
|
Kualitas A1 |
1 kuintal |
700.000 |
670.000 |
|
Kualitas A2 |
0,8 kuintal |
560.000 |
540.000 |
|
Kualitas A3 |
0,7 kuintal |
490.000 |
475.000 |
|
Kualitas A4 |
0,5 kuintal |
350.000 |
338.000 |
Tabel 4. Keuntungan penjualan produk berdasarkan jenis benihnya
Dari perkiraan keuntungan yang sangat berbeda tersebut, para petani tidak mengetahuinya karena kurangnya informasi yang didapatkan. Kebutuhan akan penyuluh menjadi sesuatu yang penting. Karena daerah yang jauh dari kota dan kemajuan teknologi yang lambat menyebabkan ketidaktahuan akan pentingnya pemilihan kualitas benih yang berpengaruh besar pada keuntungan hasil produksi. Informasi ini perlu diberitahukan pada para petani daerah tesebut untuk meningkatkan hasil produksi dan memenuhi permintaan pasar.
Sukirno, S. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga. Raja Grafindo Persada, Jakarta.