Cabai Hortikultura, Masa Produktivitas dan Manajemen Produksi

Hortikultura berasal dari Bahasa Latin yang terdiri dari dua patah kata yaitu hortus (kebun) dan culture (bercocok tanam). Hortikultura memiliki makna seluk beluk kegiatan atau seni bercocok tanam sayur-sayuran, buah – buahan atau tanaman hias. Perkembangan hortikultura di Indonesia hingga saat ini, belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini antara lain disebabkan karena hortikultura perlu penanganan yang serius, modal besar, dan berisiko tinggi. Selain itu, harga produk hortikultura rendah dan berfluktuasi sehingga memperbesar risiko rugi bagi petani.

Dengan hasil yang sedikit dan resiko yang begitu besar bagi petani menyebabkan kecil nya minat petani didalam membudidayakan tanaman hortikultura khususnya tanaman sayur-sayuran. Namun pada dasarnya tanaman hortikultura merupakan tanaman yang sangat gampang untuk dibudidayakan karena tidak memerlukan lahan yang luas untuk melakukan kegiatan budidaya.

Salah satu komditi yang dikembangkan dalam tanaman hortikultura yaitu tanaman cabai. Cabai sangat bermanfaat karena Cabai digunakan sebagai bumbu untuk menambahkan rasa pedas pada makanan. Di dalam cabai diketahui terkandung kapcaisin, dihidrokapcaisin, vitamin A dan C, minyak atsiri, zat warna kapsantin, karoten. Pada cabai merah juga mengandung berbagai mineral seperti fosfor, zat besi, kalium, kalsium, dan niasin. Sedangkan dalam biji cabai rawit terdapat solanine, solamidine, solamargine, steroid, dan antibiotik.

Cabai adalah kerabat lada dan termasuk dalam suku sirih-sirihan atau Piperaceae. Dikenal pula sebagai cabai solak (Madura) dan cabia (Sulawesi). Tumbuhan asli Indonesia ini populer sebagai tanaman obat pekarangan dan tumbuh pula di hutan-hutan sekunder dataran rendah (hingga 600m di atas permukaan laut). Tumbuhan ini produknya telah dikenal oleh orang Romawi sejak lama dan sering dikacaukan dengan lada. Di Indonesia sendiri buah keringnya digunakan sebagai rempah pemedas. Sebelum kedatangan cabai (Capsicum spp.), tumbuhan inilah yang disebut “cabe”(Nawangsih dkk,1999).

Untuk menaman cabe, maka beberapa hal yang harus diperhatikan adalah pemilihan bibit yang tepat, pembuatan semaian, persiapan lahan, penanaman dan lain sebagainya. Untuk memperjelas masing-masing proses penanaman cabe mulai dari awal hingga panen, maka berikut adalah penjelasannya secara detail yang akan dipublikasikan kepada Anda:

  1. Pemilihan bibit cabe

Untuk memilih bibit cabe yang tepat, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah menentukan jenis cabe yang akan ditanam, misalnya cabe rawit, cabe panjang dan juga cabe merah. Selain itu perlu juga menentukan bibit cabe yang masih segar dan yang kemudian dikupas untuk diambil bijinya. Biji cabe yang sudah dipilah dari kulitnya kemudian di jemur dibawah terik sinar matahari hingga kering.

  1. Membuat semaian cabe

Cara membuat semaian cabe disini adalah dengan menggunakan bedengan semai. Beberapa langkah pembuatan bedengan semai dimulai dengan pembersihan tempat bedengan dan mempersiapkan bedengan. Setelah bedengan selesai dibuat, maka tahapan selanjutnya adalah menaburkan pupuk kandang dan pupuk kimia TSP secukupnya pada lahan bedengan yang sudah tersedia. Pemberian pupuk ini dimasudkan untuk mempercepat proses pertumbuhan bibit cabe(Anonim,2012).

Langkah selanjutnya adalah menaburkan bibit cabe ke dalam bedengan semai. Jangan lupa menutup bagian atas menggunakan gulma kering (biasanya menggunakan alang-alang kering) yang disangga dengan kayu jarang antara tanah dengan bedengan penyangga bedengan sebagai atap adalah sekitar 50 cm. Hal ini dilakukan agar sinar matahari tidak masuk langsung mengenai semaian bibit cabe.           Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah menjaga kelembaban tanah bedengan secara optimal.Kelembaban tanah dapat dipertahankan bila dilakukan penyiraman setiaphari lewat atas gulma kering. Hal ini dimaksudkan agar air yang jatuh tidak langsung mengenai tanah tempat semaian cabe.Penyemaian bibit cabe dilakukan pada waktu 1 hingga 1,5 bulan. Namun pada saat bibit cabe sudah tumbuh minimal 4 helai daun, maka sebenarnya proses pemindahan sudah dapat dilakukan ke lahan yang tersedia.

  1. Persiapan lahan

Sambil menunggu semaian bibit cabe tumbuh dan siap untuk dipindahkan, maka hal selanjutnya yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan lahan pertanian. Dalam mempersiapkan lahan disini, maka hal-hal yang harus dilakukan adalah menggemburkan tanah pertanian serta membuang seluruh gulma yang ada pada lahan penanaman.

Setelah proses pembersihan dan penggemburan lahan dilakukan, maka selanjutnya hal yang harus lakukan adalah pembuatan lubang yang berjarak antara 40 hingga 60 cm. Lubang ini ini dimaksudkan untuk lubang menanam bibit cabe.

  1. Penanaman cabe

Masa penanaman cabe yang tepat adalah ketika kadar curah hujan yang tidak terlalu tinggi, namun bukan musim kemarau. Setelah itu pastikan pemilihan bibit dari semaian dan masukkan kelubang yang telah diperiapkan sebelumnya. Lubang yang telah terisi bibit cabe kemudian ditutup, bila hujan tidak datang, maka bibit cabe yang sudah ditanam sebaiknya disiram secara rutin pada pagi atau sore hari.

  1. Pemupukan tanaman cabe

Setelah tanaman cabe berumur 2 minggu, maka proses pemupukan sudah dapat dilakukan. Adapun pupuk yang diberikan adalah campuran dari TPS dan Urea secukupnya pada setiap batang cabe dengan cara pupuk yang diletakkan dari batang tanaman adalah sekitar 5-10 cm. Selain itu pupuk juga bisa dicampur dengan kompos yang berasal dari kotoran ayam dan juga dari kotoran hewan lainnya.

  1. Perawatan tanaman cabe

Perawatan tanaman cabe harus tetap diperhatikan, seperti penyiraman tanaman jika curah hujan kurang, selain itu gulma pada lahan juga harus secara rutin dibersihkan. Hal lainnya yang harus dilakukan adalah melakukan penyemprotan pestisida secara rutin sesuai dengan anjuran(Anonim,2011)

Hama thrips (Thrips sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabai. Hama thrips tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan bukan hanya pada tanaman cabai saja. Panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga . Gejala serangan hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan hama thrips. Kemudian noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain sebagai hama perusak juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) pada tanaman cabai. Untuk itu, bila mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya.

Pengendalian secara kultur teknis maupun kimiawi. Kultur teknis dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap sepanjang musim. Selain itu dapat menggunakan perangkap kuning yang dilapisi lem. Pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida Winder 25 WP konsentrasi 0,25 – 0,5 gr /liter atau insektisida cair Winder 100EC konsenstrasi 0.5 – 1 cc/L (Akin, 2006).

Selain hama thrip hama mite juga menjadi persoalan bagi petani,Hama mite selain menyerang jeruk dan apel juga menyerang tanaman cabai. Tungau bersifat parasit yang merusak daun, batang maupun buah sehingga dapat mengakibatkan perubahan warna dan bentuk. Pada tanaman cabai. Tungau menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagian bawah menjadi berwarna kuning kemerahan, daun akan menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk mengering yang akhirnya menyebabkan daun rontok. Tungau berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 0,5 mm, berkulit lunak dengan kerangka chitin. Seperti halnya thrips, hama ini juga berpotensi sebagai pembawa virus.

Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan Penyemprotan menggunakan Akarisida Samite 135 EC. Konsentrasi yang dianjurkan 0,25 -0,5 ml/L (Suryaningsih,1996).

Ulat Grayak juga menjadi salah satu hama yang menyerang tanaman cabai.Ulat ini saat memasuki stadia larva, termasuk hewan yang sangat rakus. Hanya dalam waktu yang tidak lama, daun-daun cabai bisa rusak. Ulat setelah dewasa berubah menjadi sejenis ngengat akan memakan daun-daunan pada masa larva untuk menunjang perkembangan metamorfosisnya.

Pengendalian dapat dilakukan terhadap ngengat dewasa yang hendak meletakkan telurnya pada tanaman inang dengan menyemprotkan insektisida, atau dengan insektisida biologis Turex WP konsentrasi 1 – 2 gr/Lt (Matthews, 2002).

Selain berguna untuk bumbu masak,cabe juga dapat dimanfaatkan untuk meredakan pilek & hidung tersumbat . Alasannya yaitu karena kandungan kapsaicin di dalamnya yg dapat mengencerkan lendir. Lendir yg tersumbat dlm rongga hidung akan menjadi encer & keluar. Manfaat cabe ini berlaku pada penyakit sinusitis & juga batuk berdahak.Cabe juga dapat memperkecil risiko terserang stroke, penyumbatan pembuluh darah, impotensi, & jantung koroner. Mengkonsumsi kapsaicin secara rutin maka darah akan tetap encer & kerak lemak pada pembuluh darah tdk akan terbentuk. Darah dapat mengalir dgn lancar(Suwandi,1989). Selanjutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *