Pemahaman tentang pertanian dalam masyarakat umum pada saat ini mengalami miskonsepsi sebagai sesuatu hal yang identik dengan panas, kuno, miskin, kotor dan berpenghasilan rendah. Dikatakan seperti itu karena pada kenyataannya di lapangan sekarang memang pertanian itu seperti pergi ke sawah yang berlumpur membawa cangkul dan sabit yang hasilnya tidak membuat pelaku tersebut kayak. Itu semua merupakan gambaran dari pertanian yang ada sejak dulu hingga saat ini. Namun pada masa mendatang pemahaman tentang pertanian akan berganti menjadi suatu hal yang indah, modern, dan menyenangkan.
Month: October 2015
Kebijakan Kelembagaan Pertanian
Salah satu arti lembaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “pola perilaku manusia yang mapan. Terdiri atas interaksi sosial berstruktur di suatu kerangka nilai yang relevan sedangkan kelembagaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan lembaga. Definisi lembaga mencakup konsep pola perilaku sosial yang sudah mengakar dan berlangsung terus menerus atau berulang.
Membuat Pupuk Kompos dengan Mandiri
Pupuk kompos merupakan salah satu pupuk organik yang dibuat dengan cara menguraikan sisa-sisa tanaman dan hewan dengan bantuan organisme hidup. Untuk membuat pupuk kompos diperlukan bahan baku berupa material organik dan organisme pengurai. Organisme pengurainya bisa berupa mikroorganisme ataupun makroorganisme.
Cabai Hortikultura, Masa Produktivitas dan Manajemen Produksi
Hortikultura berasal dari Bahasa Latin yang terdiri dari dua patah kata yaitu hortus (kebun) dan culture (bercocok tanam). Hortikultura memiliki makna seluk beluk kegiatan atau seni bercocok tanam sayur-sayuran, buah – buahan atau tanaman hias. Perkembangan hortikultura di Indonesia hingga saat ini, belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini antara lain disebabkan karena hortikultura perlu penanganan yang serius, modal besar, dan berisiko tinggi. Selain itu, harga produk hortikultura rendah dan berfluktuasi sehingga memperbesar risiko rugi bagi petani.
Pranata Mangsa dan Perkembangan OPT
Pranata Mangsa atau aturan waktu musim biasanya digunakan oleh para petani pedesaan, yang didasarkan pada naluri saja, dari leluhur yang sebetulnya belum tentu dimengerti asal-usul dan bagaimana uraian satu-satu kejadian di dalam setahun. Walau begitu bagi para petani tetap dipakai dan sebagai patokan untuk mengolah pertanian. Uraian mengenai Pranata Mangsa ini diambil dari sejarah para raja di Surakarta, yang tersimpan di musium Radya-Pustaka.




