Jumlah penduduk di Indonesia semakin bertambah dari hari ke hari. Kebutuhan negarapun sangatlah beraneka ragam.Untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam itu tidak cukup hanya mengandalkan produk lokal mengingat sumber daya masing- masing negara berbeda. Baik sumber daya alam maupun sumberdaya manusia yang mampu memproduksi barang yang tak dapat ditemukan di negara lain. Hal tersebut mengakibatkan adanya ketergantungan antar negara dalam memenuhi kebutuhan warga negaranya. Dengan demikian maka kegiatan mengimpor barang atau mendatangkan barang dari luar negeri ke dalam negeri diberlakukan. Disisi lain, sumber daya yang berlebih atau dianggap unggul dari dalam negeri dijual ke luar negeri atau dinamakan ekspor yang bertujuan untuk mendapatkan devisa bagi negara.
Agribisnis
Cabai Hortikultura, Masa Produktivitas dan Manajemen Produksi (II)
Artikel ini merukapan lanjutan dari artikel sebelumnya dengan judul Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nasional
Tanaman cabai memiliki banyak nama populer di berbagai negara. Namun secara umum tanaman cabai disebut sebagai pepper atau chili. Nama pepper lebih umum digunakan untuk menyebut berbagai jenis cabai besar, cabai manis, atau paprika. Sedangkan chili, biasanya digunakan untuk menyebut cabai pedas, misalnya cabai rawit.Di Indonesia sendiri, penamaan cabai juga bermacam-macam tergantung daerahnya. Cabai sering disebut dengan berbagai nama lain, misalnya, lombok, mengkreng, rawit, cengis, cengek, dan masih banyak lagi sebutan lainnya.
Kebijakan Kelembagaan Pertanian
Salah satu arti lembaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “pola perilaku manusia yang mapan. Terdiri atas interaksi sosial berstruktur di suatu kerangka nilai yang relevan sedangkan kelembagaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan lembaga. Definisi lembaga mencakup konsep pola perilaku sosial yang sudah mengakar dan berlangsung terus menerus atau berulang.
Cabai Hortikultura, Masa Produktivitas dan Manajemen Produksi
Hortikultura berasal dari Bahasa Latin yang terdiri dari dua patah kata yaitu hortus (kebun) dan culture (bercocok tanam). Hortikultura memiliki makna seluk beluk kegiatan atau seni bercocok tanam sayur-sayuran, buah – buahan atau tanaman hias. Perkembangan hortikultura di Indonesia hingga saat ini, belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini antara lain disebabkan karena hortikultura perlu penanganan yang serius, modal besar, dan berisiko tinggi. Selain itu, harga produk hortikultura rendah dan berfluktuasi sehingga memperbesar risiko rugi bagi petani.
Benih Makin Baik, Hasil Makin Naik
Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu, perusahaan-perusahaan dan masyarakat secara keseluruhannya akan selalu menghadapi persoalan-persoalan yang bersifat ekonomi, yaitu persoalan yang menghendaki seseorang atau perusahaan ataupun suatu masyarakat membuat keputusan tentang cara yang terbaik untuk melakukan suatu kegiatan ekonomi.
Kegiatan ekonomi dapat didefinisikan sabagai kegiatan seorang atau suatu perusahaan ataupun suatu masyarakat untuk memproduksi barang dan jasa maupun mengonsumsi (menggunakan) barang dan jasa tersebut. Dalam melakukan berbagai kegiatan ekonomi seorang individu, suatu perusahaan, atau masyarakat secara keseluruhannya, akan mempunyai beberapa pilihan atau alternatif untuk melakukannya. Berdasarkan kepada alternatif-alternatif yang tersedia tersebut mereka perlu mengambil keputusan untuk memilih alternatif yang terbaik.




